Beberapa hari terakhir ini, aku aktif memakai Treadmill di kantor. Hampir setiap hari selama satu jam setelah jam kerja. Aku memang sudah meniatkan untuk berolahraga tiap hari selama satu jam, supaya tubuh menjadi liat dan terbentuk… for a simple reason : It feels so good to have a nice body.. hahaha
Ketika memakai Treadmill… aku mengalami fenomena : easy to talk.. hard to do.
Treadmill ini dibeli oleh kantorku, agar orang-orang aware terhadap olahraga, at least supaya lebih sehat.. dan lebih jauhnya lagi adalah memiliki tubuh yang enak dipandang. Apalagi para executivenya. Bukan executive yang gembrot… kebanyakan mikir, gak pernah olahraga.
Olahraga juga akan membuat otak semakin cerdas, karena penyerapan oksigennya menjadi baik. Orang-orang yang tidak melakukan olahraga akan lebih cepat pikun, selain juga tidak sexy.
Fenomenanya seperti apa ? Begini :
Beberapa orang yang melewatiku sedang memakai treadmill, memberikan nasehat-nasehat tentang bagaimana berolahraga yang baik, seperti ini :
Coba pake treadmillnya minimal 45 menit (aku sudah memakainya 1 jam setiap hari)
Coba kecepatannya 12 dan waktunya 15 menit.. itu membakar kalori..
Coba pake tanjakan…
Kenapa gak gabung ke Fitness Center sekalian ? (aku sudah pernah gabung di Celebrity Fitness selama 2 tahun dan berhenti karena di apartemen ada fitness dan kolam renang, biar hemat).
Coba.. ini… Coba itu…
Dan, saudara-saudara.. tidak ada satupun dari yang memberi nasehat itu melakukan apa yang mereka sarankan padaku yang sedang jalan diatas treadmill.
Aku merenungi fenomena itu.
Mudah ya bicara… memberi saran… tapi kalo itu dilakukan sendiri, wuuiiihhhh butuh perjuangan.
Ada gap antara yang diketahui di otak.. dan kemampuan meng-execusi di tindakan.
Lalu aku memikirkan : Being Green yang tidak mudah… pertamanya aku semangat mengurangi penggunaan tas plastik pas belanja.. sampai sekarang masih sih, tapi kadang juga gak peduli lagi tuh kalo si mbak di swalayan memasukkan belanjaan ke beberapa tas plastik yang berbeda.
Lalu aku memikirkan : Spiritual Englightment. Dimana ketika memahami hakekat kemanusiaan kita, maka hal-hal yang tidak hakekat menjadi tidak penting. Tapi…. aku mengalami, ketika mantan pacarku kembali…. aku terjebak lagi ke hal-hal yang tidak penting itu : memikirkan dia berulang-ulang setiap hari… emosi yang ups and down karena dia… aku lupa bahwa di level spirit, itu hanyalah permainan sang otak yang menyentuh tombol emosi.
Lalu aku memikirkan…. apakah sebaiknya aku berhenti memberi saran yang aku sendiri tidak mampu menjalaninya atau tidak pernah menjalaninya atau aku berhenti menilai orang lain dan berkeinginan untuk mengkoreksinya. Contoh : aku sering menyarankan orang untuk sabar melalui penderitaan or at least hal yang menurutnya membuat dirinya menderita… tapi ketika aku terkena hal yang menurutku membuatku menderita… aku gak sabar tuh untuk melewatinya… dan aku tiba-tiba amnesia bahwa penderitaan itu adalah masalah persepsi di otakku.
Tiba-tiba dalam meeting-meeting kantor… aku melihat begitu banyak orang bicara …. tetapi mereka tidak melakukan apa yang mereka katakan.
It is really easy to talk…. but not easy to do.
Aku salut sama orang-orang yang diam, tapi melakukan sesuatu.
Maksudnya maling ?
Bukannnnn…. orang-orang yang melakukan kebaikan dalam diam. Ingat : To do is harder than to talk.